Teruntuk kamu, mas.
Di bagian lain Indonesia.
Hai, mas. Apa kabarmu? Aku seperti biasa, seperti yang kamu kenal, selalu (berusaha terlihat) baik-baik saja. Kamu pasti sudah lihat di TV hari ini, atau mungkin kamu lihat dari media lain, Jakarta sedang banjir. Tapi, tenang saja, mas, daerah rumahku masih jauh dari genangan air, kalau rumahmu? Biasanya sih agak-agak tergenang ya, mas? Hehe. Aku doakan semoga rumah keluargamu aman dari bencana banjir ini. Amiin.
Bagaimana dengan kehidupanmu di bagian lain Indonesia? Nyamankah? Sudah bertemu dengan wanita idamankah? Aku selalu berharap kamu mendapat kehidupan yang lebih baik, mas.
Kamu pasti sudah mengerti betul kalau ada udang di balik batu, ada maunya di balik basa-basi, dan ada curhat dariku di balik surat yang tidak terkirim ini lagi. Ya, kali ini aku kembali akan mencurahkan hatiku kepadamu. Semoga kamu tidak bosan ya, mas.
Mas konsultan yang baik, aku ‘nakal’ belakangan ini. Aku sering mengintip linimasa milik pacarnya mantan pacarku. Aku sering menstalk blognya, aku meninggalkan jejak di sana, dan aku sangat-sangat merasa sendirian belakangan ini. Kenapa aku begitu terpengaruh dengan suasana kemesraan yang mereka tunjukkan di dunia maya? Kenapa aku begitu merasa perempuan itu yang memang seharusnya menjadi pasangannya, bukan aku, yang tidak pernah bisa mendekatkan diri dengan keluarganya? Kenapa aku merasa begitu kecil dibandingkan dengan perempuan itu? Padahal aku belum pernah sekalipun bertemu langsung dengan perempuan itu.
Aku tahu jawaban darimu, mas. Mungkin jawabannya hampir sama dengan yang waktu itu. Aku tahu, mas, aku harus merubah pola pikirku yang kekanakan ini. Aku tahu, tapi ini susah. :’(
Aku tahu, mas, I’m deserved for a better guy than him. Dan dia sudah dapat yang lebih baik dari aku. Aku kapan, mas?
Aku memang mengharapkan ada perempuan lain yang bisa menemaninya, yang bisa ada terus di sisinya, tidak seperti aku. Seharusnya aku bisa lebih ikhlas menghadapi kenyataan ini kan, mas?
( ._.)/|
Mas konsultan yang paling baik yang selalu setia mendengar curahanku, kamu jauh, mas. Setidaknya kalau kamu dekat, kita bisa makan malam berdua lagi. Atau mungkin makan bubur di dekat rumahku, sekarang abangnya sudah punya counter sendiri lho mas. Ahahaha. Aku rindu kebersamaan kita, aku rindu kamu, aku rindu konsultasi langsung ke kamu sambil senyum-senyum salah gunting. XD
Jaga diri baik-baik, mas. Semoga di kesempatan pulangmu yang lain, kita bisa bersua untuk berbagi kabar dan pengalaman. Peluk rindu dari sini buat kamu.
xoxo,
M