Unsent Letter (11)

Dear mas,

Aku sudah membuat keputusan untuk hatiku. Apakah aku akan tetap bergantung dengan masa lalu atau apakah aku akan mengabaikan perasaan yang belum tuntas ini? Jawabannya tergantung dari cara si masa lalu dalam menyikapi smsku pagi ini. Apapun tindakan yang dia ambil, itu tidak akan pernah memengaruhi hatiku lagi.

Aku juga sudah memutuskan sikapku kepadamu. Aku tidak akan pernah mengganggumu dengan segala curahanku. Mungkin ini suratku yang terakhir, surat yamg tidak akan pernah terkirim. Atau mungkin aku akan tetap menulis.untukmu, sebagai satu-satunya caraku mencurahkan hati kepadamu.

Well, it’s time for goodbye. See you in another chance.

xoxo,
M

Unsent Letter (9)

Dear Mas,

Aku bosan menulis surat untukmu. Bahkan ketika kamu berada di daratan yang sama denganku, di kota yang sama denganku. Kenapa kita tidak bertatap muka saja dan duduk bersama dengan sebuah perbincangan ngalor-ngidul yang biasa kita lakukan?

Atau kamu cukup dengan senyummu saja biar aku yang mendominasi pembicaraan, seperti biasa dengan kisah-kisahku tanpamu.

Atau cukup duduk di satu meja dengan makanan di hadapan kita.

It’s pathetic, isn’t it?
Aku yang terlalu takut menguasaimu, akhirnya tetap saja aku merasa kecewa.

Ah, mungkin kamu bisa menjelaskan sesuatu kepadaku, perasaan apa yang ku rasa saat ini kepadamu?
Kamu pasti menjawab bahwa aku lah yang paling mengetahui apa yang kurasa kepadamu, bukan?

Setahuku dan seingatku, dari dulu kita berteman. Pasti hanya aku yang menganggap dirimu lebih. Kamu? Belum tentu menganggapku lebih. Siapalah aku ini? Hanya satu dari sekian banyak teman wanitamu yang paling sering berkeluh kesah denganmu.

Could you give me one more chance, Mas?
Untuk melihatmu lagi, untuk bersamamu lagi, untuk berbincang denganmu lagi, untuk tertawa bersamamu lagi.

Satu kali lagi sebelum kamu terbang tinggi ke daratan lain bersama kenyamananmu.

Satu kali lagi sebelum aku kembali menunggumu. Di sini.

xoxo,
M

Unsent Letter (5)

Teruntuk kamu, mas.
Di bagian lain Indonesia.

Hai, mas. Apa kabarmu? Aku seperti biasa, seperti yang kamu kenal, selalu (berusaha terlihat) baik-baik saja. Kamu pasti sudah lihat di TV hari ini, atau mungkin kamu lihat dari media lain, Jakarta sedang banjir. Tapi, tenang saja, mas, daerah rumahku masih jauh dari genangan air, kalau rumahmu? Biasanya sih agak-agak tergenang ya, mas? Hehe. Aku doakan semoga rumah keluargamu aman dari bencana banjir ini. Amiin.

Bagaimana dengan kehidupanmu di bagian lain Indonesia? Nyamankah? Sudah bertemu dengan wanita idamankah? Aku selalu berharap kamu mendapat kehidupan yang lebih baik, mas. :)

Kamu pasti sudah mengerti betul kalau ada udang di balik batu, ada maunya di balik basa-basi, dan ada curhat dariku di balik surat yang tidak terkirim ini lagi. Ya, kali ini aku kembali akan mencurahkan hatiku kepadamu. Semoga kamu tidak bosan ya, mas.

Mas konsultan yang baik, aku ‘nakal’ belakangan ini. Aku sering mengintip linimasa milik pacarnya mantan pacarku. Aku sering menstalk blognya, aku meninggalkan jejak di sana, dan aku sangat-sangat merasa sendirian belakangan ini. Kenapa aku begitu terpengaruh dengan suasana kemesraan yang mereka tunjukkan di dunia maya? Kenapa aku begitu merasa perempuan itu yang memang seharusnya menjadi pasangannya, bukan aku, yang tidak pernah bisa mendekatkan diri dengan keluarganya? Kenapa aku merasa begitu kecil dibandingkan dengan perempuan itu? Padahal aku belum pernah sekalipun bertemu langsung dengan perempuan itu.

Aku tahu jawaban darimu, mas. Mungkin jawabannya hampir sama dengan yang waktu itu. Aku tahu, mas, aku harus merubah pola pikirku yang kekanakan ini. Aku tahu, tapi ini susah. :’(

Aku tahu, mas, I’m deserved for a better guy than him. Dan dia sudah dapat yang lebih baik dari aku. Aku kapan, mas?

Aku memang mengharapkan ada perempuan lain yang bisa menemaninya, yang bisa ada terus di sisinya, tidak seperti aku. Seharusnya aku bisa lebih ikhlas menghadapi kenyataan ini kan, mas?

( ._.)/|

Mas konsultan yang paling baik yang selalu setia mendengar curahanku, kamu jauh, mas. Setidaknya kalau kamu dekat, kita bisa makan malam berdua lagi. Atau mungkin makan bubur di dekat rumahku, sekarang abangnya sudah punya counter sendiri lho mas. Ahahaha. Aku rindu kebersamaan kita, aku rindu kamu, aku rindu konsultasi langsung ke kamu sambil senyum-senyum salah gunting. XD

Jaga diri baik-baik, mas. Semoga di kesempatan pulangmu yang lain, kita bisa bersua untuk berbagi kabar dan pengalaman. Peluk rindu dari sini buat kamu.

xoxo,

M

bunch of voices

“Di pikiran ini, beribu-ribu kata terlalu sering berdengung. Berebut untuk didengarkan.
Aku meragu, seperti orang tersesat.
Tersesat di antara suara.

Mana yang ‘kan ku dengar?
Mana yang ‘kan ku ikuti?

Haruskah ku dengarkan yang ada di pikiran ini?

Lalu, bagaimana dengan suara hati?

Akankah kembali kuabaikan?
Atau sudah tiba saatnya untuk ku perjuangkan suara hati?

Ahh..
Nanti aku disebut egois.

Tapi, suara di pikiranku lebih egois bukan?
Maunya didengar, diikuti.

Tapi, tak pernah mendengar hati, mengikuti hati.

Di sini lah aku.
Di antara suara-suara egois pikiran dan hati.

Pikiran dan hatiku sendiri.”

xoxo,
M